Workshop “Naik Level” Bersama Ust. Isnan Hidayat, M.Psi.


Menyiapkan Diri Menempuh Perjalanan Panjang Fasilitasi Pendidikan
“Perubahan besar dalam pendidikan selalu dimulai dari perubahan pada diri pendidiknya.”
Semangat belajar dan bertumbuh kembali memenuhi aula SD IT Abu Bakar Ash Shidiq Pada Rabu, 01 Juli 2026 dalam kegiatan Workshop “Naik Level” bersama Ust. Isnan Hidayat, M.Psi.
Workshop ini bukan sekadar pelatihan, tetapi sebuah ruang refleksi yang mengajak setiap guru dan tenaga kependidikan untuk mempersiapkan diri menempuh perjalanan panjang sebagai fasilitator pendidikan yang mampu menghadirkan perubahan, bukan hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi dirinya sendiri.
Dalam pemaparannya, Ust. Isnan menegaskan bahwa membangun sekolah unggul tidak cukup dengan memperbaiki perilaku yang tampak di permukaan. Budaya sekolah yang hebat lahir dari sistem yang sehat, pola pikir yang benar, dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten.
“Jika ingin budaya sekolah naik kelas, jangan hanya memperbaiki perilaku yang terlihat. Bangun sistemnya, luruskan pola pikirnya, lalu lakukan pembiasaan secara konsisten. Budaya unggul akan tumbuh sebagai hasilnya.”
Pesan tersebut mengingatkan bahwa perubahan sejati bukan dimulai dari aturan yang semakin banyak, melainkan dari kesadaran setiap insan di dalamnya. Ketika sistem dibangun dengan baik dan seluruh warga sekolah memiliki cara pandang yang sama terhadap visi pendidikan, budaya unggul akan tumbuh secara alami.
Beliau juga mengajak seluruh peserta untuk tidak pernah meremehkan setiap interaksi dengan orang-orang di sekitar. Sebab, setiap sapaan, senyuman, perhatian, maupun kata-kata yang diucapkan seorang guru dapat menjadi bekal yang membentuk karakter peserta didik. Saat menjalankan visi sekolah, setiap pendidik hendaknya terus bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apa yang sudah aku miliki, dan apa yang harus aku perbaiki?”
Pertanyaan sederhana ini menjadi bahan muhasabah agar setiap guru terus bertumbuh dan tidak pernah berhenti memperbaiki kualitas dirinya.
Menjadi Mujahidun Linafsihi
Workshop ini mengajak seluruh peserta menjadi mujahidun linafsihi, yaitu pejuang yang pertama kali menaklukkan dirinya sendiri sebelum berusaha memperbaiki orang lain. Perjuangan terbesar seorang pendidik bukanlah menghadapi murid yang sulit, melainkan menaklukkan ego, rasa malas, prasangka, dan berbagai kelemahan dalam dirinya.
Semangat tersebut diperkuat melalui konsep The Power of Unlearning, yaitu kemampuan untuk terus bertumbuh melalui tiga proses penting:
✅Learn — terus belajar dan membuka diri terhadap ilmu serta pengalaman baru.
✅Unlearn — berani melepaskan pola pikir, kebiasaan, dan keyakinan lama yang menghambat kemajuan.
✅Relearn — mempelajari kembali dengan perspektif yang lebih matang sehingga lahir perubahan yang lebih bermakna.
Belajar ternyata bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga tentang keberanian mengosongkan diri agar siap menerima hikmah yang baru.
Fasilitator Pendidikan Dimulai dari Hati yang Bersih
Salah satu materi yang paling menyentuh adalah tahapan menjadi fasilitator pendidikan melalui empat fase pengembangan diri.
Perjalanan itu dimulai dari Phase 0: Tazkiyatun Nafs. Sebelum mampu membimbing orang lain, seorang pendidik harus terlebih dahulu membersihkan noda hati, menyembuhkan luka batin, memperbaiki niat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dari hati yang bersih akan lahir ketulusan dalam melayani dan kebijaksanaan dalam mendidik.
Fondasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan Listening Skill, yaitu kemampuan mendengarkan secara aktif. Guru yang hebat tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu hadir sepenuhnya, memperhatikan bahasa verbal maupun nonverbal, serta merespons dengan empati.
Tahap berikutnya adalah Empathizing Skill, yaitu kemampuan memahami sudut pandang orang lain. Guru belajar melihat dunia melalui mata peserta didiknya, memahami alasan di balik setiap perilaku, dan tidak tergesa-gesa memberikan penilaian.
Setelah mampu mendengar dan memahami, seorang pendidik memasuki Design Thinking Skill, yaitu kemampuan menemukan solusi berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap akar persoalan. Guru tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi mampu merancang perubahan yang tepat, kreatif, dan berdampak jangka panjang.
Keempat fase tersebut menunjukkan bahwa guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pembelajar sepanjang hayat yang terus memperbaiki kualitas hati, cara berpikir, dan cara melayani.
Membaca sebagai Jalan Bertumbuh
Di tengah derasnya arus informasi, Ust. Isnan juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi membaca.
“Pahala membaca buku tidak terletak pada seberapa paham kita, tetapi pada istiqamah hingga mampu mengkhatamkannya.”
Pesan ini mengajarkan bahwa keberkahan ilmu lahir dari konsistensi. Sedikit demi sedikit, tetapi terus dilakukan, akan membentuk pribadi yang kaya wawasan dan matang dalam berpikir.
Ar-Ridha, Amal Batin Terbaik
Sebagai penutup, peserta diajak merenungkan salah satu amal batin terbaik di muka bumi, yaitu Ar-Ridha—penerimaan tanpa syarat terhadap ketetapan Allah SWT. Ketika hati dipenuhi keridaan, seseorang tidak lagi sibuk mengeluh, melainkan fokus memperbaiki ikhtiar dan memberikan manfaat terbaik bagi sesama.
Perjalanan perubahan itu dirangkum dalam tiga ajakan sederhana namun mendalam:
✅Open Your Mind — bukalah pikiran untuk terus belajar.
✅Open Your Heart — bukalah hati untuk menerima nasihat, kritik, dan hikmah.
✅Open Your Will — bukalah kemauan untuk berubah dan mengambil tindakan nyata.
Seluruh proses pembelajaran tersebut dikemas melalui GROW-S Methodology, yang menuntun peserta bukan hanya memahami materi, tetapi mampu menerjemahkannya menjadi aksi nyata dalam kehidupan dan pelayanan pendidikan.
Workshop “Naik Level” bukanlah akhir dari sebuah pelatihan, melainkan awal dari sebuah perjalanan. Perjalanan panjang untuk melahirkan pendidik yang terus belajar, membersihkan hati, memperbaiki diri, menguatkan sistem, membangun budaya sekolah yang unggul, dan menghadirkan pendidikan sebagai jalan menebarkan rahmat.
Semoga setiap guru SD IT Abu Bakar Ash Shidiq senantiasa menjadi mujahidun linafsihi—pejuang yang tidak pernah lelah menaklukkan dirinya sendiri, karena perubahan sekolah yang besar selalu dimulai dari perubahan hati orang-orang yang mengabdi di dalamnya